Seseorang yang memiliki minat atau hobi terhadap otomotif dan suka hal-hal yang berbeda biasanya sering mengubah tampilan luar dan dalam dari kendaraan miliknya tersebut. Hampir selalu, velg adalah salah satu komponen pada kendaraan yang sering menjadi target utama modifikasi. Velg yang berfungsi sebagai dudukan ban pada kendaraan memiliki peranan yang sangat vital yakni menyangkut masalah keselamatan karena velg juga turut menahan beban yang ditopang oleh kendaraan.

Bervariasinya model dan warna velg yang dijual di pasaran pasti banyak memikat para penggemar modifikasi. Karena  dengan merubah model velg maka tampilan dari kendaraan pun akan berbeda, motor atau mobil akan lebih indah dipandang. Patut diketahui, untuk memodifikasi sebuah velg membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi jika velg memiliki merk dan tampilan yang ciamik.

Tapi tahukah kita? Ada saja sebagian dari pencinta modifikasi yang tergiur menggunakan velg rekondisi untuk menunjang tampilan dari kendaraan yang dimilikinya. Biasanya pengguna velg rekondisi adalah konsumen yang terlena dengan penawaran harga jauh lebih murah dan tertipu dengan kondisi fisik velg dari luarnya saja.

Velg rekondisi berarti velg tersebut sudah pernah digunakan oleh orang lain dan telah melewati proses perbaikan sehingga terlihat seperti baru. Sedangkan dari segi performa, ketahanan dan kinerja velg rekondisi tidak akan sebaik velg yang benar-benar baru. Jika tetap memaksakan menggunakan velg rekondisi, maka jangan heran jika kenyamanan saat berkendara menurun dan bukan tidak mungkin keselamatan pun dapat terancam.

Menurut Tyre & Rim Consultant dan Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Bambang Widjanarko kepada Kompas.com, velg rekondisi sebenarnya berbahaya jika tetap digunakan.

“Biar bagaimana pun kondisinya, pelek yang sudah pernah dipakai, lubang bautnya pasti agak longgar. Nah rekondisi ini bisa ditambah dagingnya dan dibuat lagi seperti baru,” ucap Bambang kepada Kompas.com, Senin (12/10/2020).

Tidak sampai disitu, Bambang pun menambahkan, jika terdapat retak halus pada velg rekondisi dan telah ditutupi saat proses perbaikan maka ketika kembali digunakan, garis retak halus tersebut sangat mungkin akan menjadi lebih parah bahkan membahayakan pengendara apabila terus dipaksakan berjalan dengan intensitas tinggi.

Dengan demikian, untuk tetap menjaga kenyamanan dan keselamatan lebih disarankan menggunakan velg baru. Jika tidak memiliki cukup uang untuk memodifikasinya, maka gunakan velg standar saja selama kondisinya masih layak pakai.

Penting diketahui, demi menjaga kondisi velg agar awet dan tahan lama maka mulai lah menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan ban. Karena kondisi sebuah ban sangat mempengaruhi kondisi dari velg itu sendiri. Kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga kondisi velg yakni rutin melakukan pengecekan tekanan angin pada ban dan tentunya juga wajib menggunakan tekanan angin standar. Bila sering berkendara dengan menggunakan ban bertekanan angin dibawah standar atau kempes, maka ban akan cepat aus secara tidak merata dan juga memungkinkan velg berubah bentuk. Begitupun sebaliknya, menggunakan tekanan angin berlebih juga berbahaya karena ban yang terlalu tinggi tekanannya juga mudah aus dan retak-retak.

Selanjutnya, mulai lah cerdas memilih sebuah ban. Karena ban dengan kualitas terbaik akan memberikan kenyamanan dan performa yang memuaskan saat digunakan. Ketangguhan dan ketahanan sebuah ban turut mempengaruhi kinerja dari kendaraan itu sendiri. Pilihan tepat tentu ada pada ban Maxxis. Ketangguhan dan ketahanannya dalam melibas segala macam medan sudah terbukti. Tidak heran jika Lembaga Penelitian TCS Swiss dan majalah otomotif asal Jerman, Ace Magazine menobatkan Maxxis sebagai ban yang paling direkomendasikan pada musim panas 2020.